Abdus Syukur, Petugas Kebersihan Kantor NU Situbondo Sejak Era Kiai As’ad

0
112
bhasafm
Seorang kader muda NU mencium tangan Abdus Syukur di Kantor PC NU Situbondo (Foto: Zaini Zain))

Situbondo- Bagi pengurus NU Situbondo, nama Abdus Syukur mungkin sudah tak asing lagi. Kakek berusia 67 tahun itu sudah puluhan tahun mengabdi jadi petugas kebersihan di Kantor NU Situbondo.

Meski Abdus Syukur tak ingat secara pasti sudah berapa tahun jadi petugas kebersihan, namun saat Muktamar NU ke 27 tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, ia mengaku sudah bekerja di Kantor  NU. Bahkan saat Muktamar, Abdus Syukur juga mulai ikut membantu.

Pelaksanaan Muktamar NU di Sukorejo kurang lebih sekitar 37 tahun silam. Kalau Abdus Syukur mulai bekerja sebagai petugas kebersihan Kantor NU sebelum Muktamar, bisa jadi dia sudah bekerja sekitar 40 tahunan.

Kakek yang tinggal di lingkungan Paraaman RT 02 RW 3, Kelurahan Dawuhan Situbondo, mengaku masih menututi saat KHR. As’ad Syamsul Arifin jadi pengurus NU. Menurutnya, Kiai As’ad selalu mampir ke Kantor NU kalau datang perjalanan dari luar kota maupun dari mana saja.

“Kalau dari mana-mana beliau (Kiai As’ad) selalu mampir ke kantor NU. Biasanya tanya-tanya ada siapa saja di Kantor NU,” kenang kekek satu orang cucu itu.

BACA JUGA :  Akibat Pendemi Covid-19 Angka Pengangguran Bertambah

Menurut Abdus Syukur, dirinya mulai jadi petugas kebersihan Kantor NU Situbondo, karena diajak salah seorang pengurus NU. Abdus Syukur mengaku merasa nyaman dan tak pernah mengharap bayaran.

Abdus Syukur mengungkapkan, sudah ada bebarapa pergantian Ketua NU Situbondo dan dirinya masih tetap dipercaya jadi petugas kebersihan.

“Yang saya ingat Ketua NU diantaranya KH. Sahrawi Musa, Kiai  Hadari, Ust. Anwar, KH. Mursyid Ramli, Kiai Marsuwi dan Kiai Zaini. Saya sudah lupa yang saya cuma sebagian,”katanya

Abdus Syukur mengaku tak pernah mondok. Dirinya jadi petugas kebersihan  karena ingin mengabdi kepada para Kiai. Ia mengaku selalu ingat pesan Kiai As’ad, agar warga NU merawat NU dan jangan merusak NU karena bisa kualat.

“Saya berharap berkah dengan mengabdi di NU,” ujar kakek yang sekitar 100 hari lalu ditinggal mati sang istri

Reporter: Zaini Zain