Banyak Sekolah Belum Penuhi Pagu PPDB, Para Guru Terancam Tak Bisa Cairkan Sertifikasi

0

Situbondo- Masih banyak SMA dan SMK Negeri di Situbondo belum memenuhi pagu Penerimaan Peserta Didik Baru (PPBD). Hingga kini, baru ada tiga sekolah memenuhi pagu, yaitu SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Situbondo.

Untuk sekolah kejuruan yang pagunya sudah terpenuhi baru SMK Negeri 1 Panji. Bahkan ada salah satu sekolah negeri menetapkan delapan pagu, namun baru empat pagu terpenuhi.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur  wilayah Situbondo-Bondowoso, Sugiyono Eksantoso, ada 16 SMA dan SMK Negeri di Situbondo. Dari jumlah tersebur baru tiga sekolah yang sudah memenuhi pagu PPDB.

“Saya mencontohkan SMA Negeri 1 Kapongan. Dari delapan kelas baru empat pagu yang memenuhi,” kata Sugiyono Eksantoso, Rabu, 8 Juli 2020

Menurut Sugiyono, banyaknya sekolah belum terpenuhi pagu PPDB, akan berdampak terhadap pencairan sertifikasi guru. Sebab dengan jumlah siswa sedikit, para guru akan kesulitan memenuhi standar jam mengajar.

Sugiyono menduga, pandemi Corona berdampak terhadap PPDB untuk SMA dan SMK Negeri di Situbondo tahun ini. Padahal, jika menghitung jumlah lulusan  SMP dan MTs, akan melebihi pagu di setiap SMA Negeri dan SMK Negeri yang ada.

BACA JUGA :  Mengamuk di Rumahnya ODGJ Diamankan ke Dinas Sosial

Menurut Sugiyono, kekurangan pagu PPDB tersebut juga terjadi di sekolah-sekolah swasta termasuk di Bondowoso.  Bahkan ada beberapa sekolah swasta menawarkan seragam gratis hingga antar jemput siswa, namun pagu yang tersedia masih belum juga semuanya terpenuhi.

“Bisa jadi karena pandemi Corona dan siswa tidak bisa atau takut mau keluar rumah. Tapi bisa jadi ada sebab-sebab lainnya,” tutur Sugiyono.

Sugiyono mengaku tidak ada hubungannya kurangnya Pagu PPDB itu dengan sistem zonasi. Sebab, penerimaan PPDB sudah menerapkan tiga pola, yaitu tahap afirmasi, tahap zonasi dan tahap prestasi. Untuk tahap ketiga yaitu prestasi disediakan kuota 35 persen. Para siswa pun masih bisa memiliki tiga sekolah sekaligus untuk tahap prestasi.

“Jadi siswa yang tak bisa mendaftar melalui tahap afirmasi dan zonasi, masih bisa menggunakan prestasi dan kuotanya cukup besar,” ujarnya.