Masa Pendemi Diduga Jadi Penyebab Tingginya Kekerasan Anak dan Perempuan

0
Bhasafm
Kepala DPPPA Pemkab Situbondo, Imam Hidayat (foto: Zaini Zain)

Situbondo- Pandemi Corona diduga jadi salah satu penyebab tingginya angka kekerasan anak dan perempuan di Situbondo. Ada 22 kasus kekerasan anak di bawah umur selama Januari hingga bulan Juni. Dari jumlah tersebut tertinggi terjadi di bulan Juni yaitu delapan kasus.

Jumlah kekerasan anak dan perempuan tahun ini mengalami peningkatan drastis dibandingkan beberapa tahun terakhir. Ironisnya, paling banyak korban kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur menimpa siswa SD dan SMP.

Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindugan Anak (DPPPA) Situbondo, Imam Hidayat, tahun sebelumnya rentang waktu Januari hingga Juni hanya ada belasan kasus, namun tahun ini mengalami lonjakan cukup tinggi.

Imam mengaku, selama masa pandemi ada kecenderungan angka kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur meningkat. Kemungkinan faktor social distancing menjadi salah satu penyebabnya. Selama masa pandemi, anak-anak yang tidak masuk sekolah banyak bergaul dengan orang dewasa.

BACA JUGA :  Kapolres Janji Tindak Tegas Pelaku Perusakan, Satu Pleton Pasukan Brimob Bantu Pengamanan

“Dugaan pandemi jadi penyebab karena pelakunya adalah orang sekitar korban,” kata Imam Hidayat.

Selain itu kata Imam, bisa jadi karena selama pandemi banyak anak-anak lebih sering memegang HP smart. Meski belajar di rumah menggunakan HP, namun jika tanpa adanya kontrol orang tua juga bisa berakibat fatal. Sebab tidak ada yang tahu  selain belajar bisa jadi buka konten yang lain.

Menurut Imam, mengingat kian meningkatnya kasus kekerasan anak dan perempuan tahun ini, maka pihaknya akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk Unit Perlindungan Anak dan Perempuan Polres. Sebab masalah kekerasan seksual anak di bawah umur memerlukan penanganan secara khusus,

“Yang tak kalah pentingnya adalah pengawasan dari orang tua dengan siapa saja anak-anak mereka bergaul,” pungkasnya.