Kakek Sandang, Selama 30 Tahun Jadi Tukang Cap Piring dan Sendok

0
bhasafm
Kakek Sandang menunjukan alat bikin cap pada perabotan piring dan sendok (Foto: Zaini Zain)

Situbondo- Pekerjaan menjadi pengrajin cap atau pemberi tanda perabotan piring dan sendok bisa dibilang sudah mulai langka. Banyak pengrajin beralih ke profesi lain karena dinilai sudah mulai kurang menjanjikan.

Salah satu pengrajin yang masih menekuni profesi ini seorang kakek bernama Sandang, warga Dusun Trebungan, Desa Wringinanom, Kecamatan Panarukan.Kakek berusia 64 tahun itu mengaku sudah sekitar 30 tahun menjadi tukang cap piring dan sendok. Ia tetap menekuni pekerjaannya tersebut meski sebagian orang menilai sudah kurang menjanjikan.

“Bagi saya pekerjaan ini satu-satunya sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dulu saya pernah jadi tukang selam di Sumetera enggak sukses,” terang kakek sebatang kara itu saat ditemui di jalan Wijaya Kusuma, Rabu, 5 Mei 2021

BACA JUGA :  Galeri Konfercab NU Situbondo

Menurut Sandang, setiap hari dirinya berkeliling mencari konsumen menggunakan sepeda pedal. Meski sudah berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lainnya belum ada jaminan dirinya mendapatkan pelanggan.

“Pekerjaan ini seperti pekerjaan nelayan yang sedang cari ikan. Harus tetap dicari walau seharian belum tentu dapat pelanggan,” katanya sambil menunjukan peralatan di boks sepedanya.

Sandang menambahkan, dirinya biasanya mematok ongkos seharga 15 ribu per lusin perabotan piring maupun sendok. Untuk motif dan nama perabotan sepenuhnya diserahkan kepada konsumen nya.

“Semakin banyak perabotan yang diberi tanda (cap) maka semakin banyak pendapatan yang saya terima. Saya mau jalan dulu cari pelanggan,” katanya sambil berlalu pergi.

Reporter: Zaini Zain