Kisah Muhammad Riki, Pergi ke Malaysia Penuh Harapan, Pulang Dengan Ratapan

0
bhasafm
Seorang pekerja migran naik kursi roda karena mengalami patah tulang setelah terjatuh dari lantai 5 di Malaysia (Foto: Zaini Zain)

Situbondo- Ada tiga orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) baru tiba di Situbondo, Selasa sore kemarin. Semuanya merupakan warga Situbondo yang baru pulang dari  Malaysia. Mereka langsung di bawah ke pusat karantina wisma GOR Baluran untuk menjalani karantina hingga tiga hari kedepan.

Satu dari ketiga pekerja itu adalah Muhammad Riki, (27). Pria asal Desa Wringinanom, Kecamatan Panarukan, harus dipanggul turun dari atas mobil karena kedua kakinya patah. Muhammad Riki kemudian dibawa masuk ke dalam ruangan menggunakan kursi roda.

Menurut Riki, dirinya sudah delapan tahun bekerja di Malaysia. Sekitar dua bulan lalu ia terjatuh dari lantai 5 saat bekerja bangunan di kawasan Petaling Jaya Kuala Lumpur Malaysia.

“Saya mencari kerja ke Malaysia sejak lulus SMA. Awalnya bekerja di Batam kemudian berangkat ke Malaysia karena ingin mendapat penghasilan besar,” katanya ditemui di pusat karantina wisma GOR Baluran, Selasa, 8 Juni 2021.

Muhammad Riki mengaku, dirinya mengalami patah tulang pada kedua kaki dan beberapa bagian tubuhnya yang lain, setelah terjatuh dari lantai 5 saat bekerja bangunan. Riki mengaku enam hari koma di ruang ICU Rumah sakit.

BACA JUGA :  Pecah Kaca Mobil Nasabah Bank, Kawanan Pencuri Gasak Satu Kresek Uang

“Saya berobat sendiri dan menghabiskan uang Rp. 50 juta. Sebagian uang sendiri sebagian lagi dibantu pekerja lain asal Indonesia,” tuturnya.

Beruntung, Muhammad Riki sudah menikah di Malaysia dengan gadis pujaan hatinya asal Medan bernama Lisa (25). Selama perawatan medis akibat patah tulang, Riki mengaku dirawat oleh istri yang dinikahinya sejak tiga tahun yang lalu.

“Ini saya bawa istri kesini. Ini baru pertama kali dia ke Situbondo karena saya dan dia menikah di Malaysia,” katanya sambil melirik sang istri yang memegang kursi roda.

Nasib yang dialami Muhammad Riki di Malaysia, mungkin hanyalah potret kecil dari sekian banyak pekerja lain yang mengalami nasib teragis selama bekerja Negeri Jiran. Semula mereka berangkat bekerja dengan penuh harapan, namun harus pulang dengan ratapan.

Reporter: Zaini Zain