Kiai Azaim, Menjaga Khittah NU Berarti Mengawal Warisan Kiai As’ad dan KH Hasyim Asy’ari

0
BhasaFM
Pengasuh Pesantren Sukorejo KHR. Ahmad Azaim Ibrahmimy di acara Haul Majemuk pendiri dan pengasuh Ponpes Salafiyah-Syafi'iyah Sukorejo (Foto : Pusat IKSASS)

Situbondo- Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, menyatakan bahwa mengawal khittah Nahdlatul Ulama (NU), berarti mengawal perjuangan Kiai As’ad dan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.

Pernyataan ini disampaikan Kiai Azaim melalui buku tentang makna khittah NU, yang disebarkan di acara Haul Majemuk pendiri dan pengasuh pondok pesantren Sukorejo, di Masjid Jami’ Ibrahimy, Senin 13 Januari 2020 kemarin.

Haul majemuk dihadiri ribuan santri, alumni dan simpatisan pondok pesantren Sukorejo, serta Syekh Syarif Adnan At Talidi, dari Maroko, serta sejumlah Kiai dan habaib. Berdasarkan laporan panitia, hasil bacaan surat ikhlas haul majemuk tahun ini mencapai 1 Miliar 124 juta 217 ribu 966 kali. Sedangkan untuk bacaan al Qur’an mencapai 36 ribu 116 kali.

Kiai Azaim menyampaikan terima kasih kepada kaum muslim yang datang mengikuti haul majemuk pendiri dan pengasuh pondok pesantren Sukorejo. Menurutnya, salah satu warisan leluhurnya yaitu pondok pesantren Sukorejo dan khittah NU.

Kiai Azaim menjelaskan, Pesantren Sukorejo menjadi saksi sejarah Khittah NU, karena menjadi tuan rumah Muktamar NU 1984. Sebagai penerus pesantren Sukorejo, Kiai Azaim merasa perlu menerbitkan buku makna Khittah NU, karena situasi dan kondisi belakangan ini yang menuntut adanya pembaharuan pemahaman tentang makna Khittah NU.

BACA JUGA :  Jadwal Pembekalan Praktik Magang Profesi Fakultas Dakwah

Menurut Kiai Azaim, Khittah NU sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena sudah tertuang di dalam risalah berdirinya NU yang ditulis pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Kiai Azaim mengijinkan buku makna khittah NU disebar luaskan di pondok pesantren yang segaris perjuanganya dengan pondok pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, agar perjuangan NU senantiasa berada di jalur para pendirinya.

Kiai Azaim menambahkan, dalam pertemuan di Jombang beberapa waktu lalu, dirinya sudah mendapatkan restu menyebar luaskan buku makna khittah, termasuk menghidupkan kembali wiridan Ya Jabbar Ya Qahhar yang telah disebar luaskan beserta tata cara mengamalkannya.

Lebih jauh Kiai Azaim Ibrahimy mengajak kaum para santri, alumni dan simpatisan,untuk terus menjaga ajarah ahlus sunnah wal jama’ah. Kiai Azaim mengaku yakin, bahwa mengawal khittah NU, berarti menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).