Situbondo, bhasafm.co.id- Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Situbondo melaksanakan aksi nyata pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon pada Selasa (30/12/2025). Kegiatan yang mengusung tema “Hijaukan Bumi, Pulihkan Alam” ini merupakan bagian dari program Ekoteologi yang dicanangkan secara nasional. Aksi ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus menjadi investasi masa depan bagi generasi mendatang di wilayah Situbondo.
Program Ekoteologi ini menekankan bahwa merawat alam adalah bagian dari perwujudan iman dan ajaran agama. Melalui penanaman pohon, diharapkan lingkungan kantor dan madrasah menjadi lebih asri serta terhindar dari ancaman bencana alam. Kemenag ingin membuktikan bahwa institusi agama tidak hanya hadir dalam urusan ibadah di masjid atau pesantren, tetapi juga peduli pada kesehatan lingkungan hidup secara luas.

Dalam arahannya, Dr. H. Muhammad Mudhofar, S.Ag., M.Si, menegaskan bahwa menanam pohon bukan sekadar simbolis, melainkan harus dibarengi dengan komitmen perawatan yang konsisten. Beliau meminta seluruh jajaran, mulai dari Kepala KUA hingga Kepala Madrasah, untuk memastikan bibit yang ditanam tumbuh dengan baik dan tidak dibiarkan mati. “Ekoteologi ini maknanya tidak hanya menanam pohon, saya ingin mengingatkan kepada warga besar setelah kita rutin menanam pohon, maka jangan lupa dirawat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dr. H. Muhammad Mudhofar menjelaskan bahwa kerusakan alam merupakan salah satu penyebab utama terjadinya berbagai bencana saat ini. Dengan gerakan penghijauan ini, diharapkan pasokan oksigen meningkat dan suhu udara di sekitar menjadi lebih sejuk bagi masyarakat. “Supaya kita mendapatkan bumi yang berwarna hijau, oksigen yang berputar untuk kita semuanya, alam terjaga, dan bencana terhindarkan,” tambahnya di hadapan para ASN Kemenag.
Menariknya, aksi ini ternyata sudah menjadi kewajiban bagi para pegawai baru di lingkungan Kementerian Agama sebelum mereka resmi menerima SK pengangkatan. Setiap ASN diwajibkan menanam pohon sebagai bukti nyata kepedulian terhadap lingkungan, sehingga gerakan ini memiliki dampak yang luas secara nasional. Hal ini menunjukkan bahwa Kementerian Agama serius dalam mewujudkan program lingkungan yang berkelanjutan dan bukan sekadar acara seremonial saja.
Sebagai penutup, kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-80 untuk tahun 2026 mendatang. Sinergi antara penyuluh agama dan masyarakat diharapkan terus kuat dalam menjaga kelestarian alam di berbagai wilayah, “Mari terus kita galakkan kegiatan penghijauan sebagai bukti wujud kita atas ajaran agama yang mengajarkan cinta kepada sesama manusia dan alam sekitarnya,” pungkas Dr. H. Muhammad Mudhofar.









