Lestarikan Warisan Leluhur, Tempo Dulu Pertunjukan Ojung Ajang Pembuktian Para Pendekar

0
51
bhasafm
Petarung ojung sedang duel mengadu ketangkasan memukul maupun menangkis serangan lawan menggunakan rotan (Foto: Zaini Zain)

Situbondo- Pemerintah Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, menggelar pertunjukan ojung sebagai rangkaian kegiatan penutup acara selamatan desa. Pertunjukan ojung menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Pertunjukan ojung kali ini tetap menerapkan protokol kesehatan (Prokes) karena masih pandemi. Pihak desa menyiapkan tempat cuci tangan di pintu masuk serta menyediakan masker bagi pengunjung.

Kepala Desa Bugeman, Udit Sudiasto, mengatakan, tradisi ojung digelar setiap tahun setiap hari Selasa pada minggu keempat bulan Maulid. Pagelaran ojung ini merupakan warisan leluhur yang sudah dilaksanakan secara turun temurun.

“Tradisi ojung di Desa Bugeman ini sudah melegenda. Ojung Bugeman juga sudah Go Nasional karena pernah ditampilkan di berbagai event di Jakarta,” katanya, Selasa, 2 November 2021.

Pertunjukan ojung mirip seperti pertandingan pencak silat, yaitu satu lawan satu berduel di atas panggung. Bedanya, para petarung ojung dilengkapi senjata berupa rotan yang dipergunakan memukul lawan. Selama pertandingan ojung berlangsung dipandu seorang wasit. Pemenang pertandingan akan dilihat dari banyaknya sabetan ojun di tubuh petarung.

BACA JUGA :  Kecelakaan Lalulintas Ketua KONI Situbondo Meninggal Sepulang dari Masjid

Pada zaman dahulu, pertandingan ojung menjadi ajang pembuktian bagi para pendekar. Di masa itu, Desa Bugeman konon memiliki banyak pendekar berilmu kebal. Setiap saat, para pendekar itu seringkali terlibat perkelahian.

“Nah, para leluhur kami kemudian bertapa meminta petunjuk di salah satu gowa di Bondowoso untuk menyelesaikan bentrokan para pendekar yang sangat meresahkan, maka diberi petunjuk melalui kegiatan ojung. Para pendekar disediakan sarana bertarung bebas di atas panggung, namun setelah itu mereka kembali saling bersalaman,” ujarnya.

Menurut Udit Sudiasto,  hingga kini tradisi ojung terus dilestarikan sebagai warisan leluhur. Para generasi millennial juga banyak belajar teknik kemampuan bermain ojung. Ada pula mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menjadikan tradisi ojung ini sebagai studi penelitian.

“Saya sudah tiga periode memimpin Desa Bugeman. Jadi, siapapun kepala desanya nanti, mereka harus tetap meneruskan tradisi ojung ini yang bisa digelar secara turun temurun,” pungkasnya.

Reporter: Zaini Zain