Mengunjungi Kampung Tahu di Desa Jetis Kecamatan Besuki

0
132
Bhasafm
KAMPUNG TAHU: Salah satu produsen tahu di Desa Jetis, Kecamatan Besuki ( foto: Zaini Zain )

Situbondo- Tahu merupakan jenis makanan yang sangat mudah dijumpai. Selain harganya terjangkau, tahu memiliki kandungan protein gizi tinggi. Bagi pecinta kuliner, tahu bisa dibikin apa saja sesuai selera. Beberapa tahun terakhir ini tahu menjelma jadi menu kuliner kekinian, mulai jihu geprek, tahu crispy hingga perkedel tahu.

Tahukah anda, di Situbondo ada kampung tahu. Kampung tahu itu berada di Dusun Krajan, Desa Jetis, Kecamatan Besuki. Ada belasan warga di tempat ini menekuni industry tahu. Tak hanya diperjual belikan di pasar lokal, para produsen tahun di tempat ini sudah merambah pasar Kabupaten tetangga yaitu Bondowoso dan Probolinggo.

Pak Aziz adalah satu dari belasan pembuat tahu di kampung tahu Desa Jetis. Sudah 20 tahun ini ia menekuni usahanya tersebut. Aziz, setiap harinya memproduksi 1 kwintal kedelai menjadi tahu.

“Iya 1 kwintal itu habis setiap hari. Kami sudah punya pelanggan yang datang membeli tahu kesini,” katanya, Rabu, 17 Februari 2021.

Aziz dan para produsen tahu lainnya mengeluhkan harga kedelai yang selalu tak stabil. Saat ini, harga kedelai berkisar antara 9600 hingga 10.000 perkilo gramnya. Kenaikan harga kedelai membuat produsen tahu kerapkali kelimpungan.

“Sebelumnya harga kedelai masih 8500 per kg. Sekarang sudah naik jadi 10 ribuan. Mau gak mau harga tahu harus kami naikan agar tidak rugi,” katanya.

BACA JUGA :  Kabupaten Situbondo Terima Penghargaan KLA Kategori Madya

Sementara itu, Kepala Desa Jetis, Fadlan mengaku, bahwa di Desanya memang menjadi pusat industry tahu sejak dulu.  Saat ini tercatat ada sekitar 25 pelaku industri tahu tersebar di beberapa dusun.

“Disini memang jadi pusat industry tahu. Sejak saya kecil sudah banyak yang menekuni usaha tahu,” terangnya.

Menurut Fadlan, selama ini harga kedelai yang tak stabil di pasaran memang dikeluhkan para produsen tahu. Oleh karena itu, Badan Usaha Desa (BUMDes) nantinya akan ikut mengembangkan menyediakan kedelai dengan harga distributor atau  lebih murah dibandingkan harga di pasaran.

“Nanti semua perusahaan tahu disini harus beli kedelai di BUMdes dengan harga murah. Sebetulnya tahun lalu BUMDes sudah dianggarkan Rp. 100 juta, tapi belum jalan karena dananya kena refocussing Covid-19,” terangnya.

Fadlan menambahkan, industry tahu di Desanya akan menjadi salah satu brending home industry unggulan. Tujuannya, agar industry tahu  terus berkembang dan masyarakat akan lebih sejahtera ekonominya.

“Dulu, waktu saya menjabat Kades pertama industry tahu di desa kami sudah pernah di bawa ke Provinsi. Mohon do’anya, kedepan akan terus kami kembangkan lebih besar lagi,” katanya.

Reporter: Zaini Zain