Muhafadzoh LPK2

0
38
bhasafm
Suasana santri sedang muhafadzah pada pembinanya ( foto : tim salaf )

Situbondo- Lembaga pembelajaran kitab kuning, LPK2, kitab jurmiyah, merupakan lembaga pembelajaran kitab kuning yang berada di asrama Nurul Qoni’ yang dalam pelaksanaan kegiatanya seusai kegiatan di mushollah ba’da sholat isya’ dan pengajian kitab kuning yang di ajarkan oleh muallim tertentu. Dalam pembelajaran kitab kuningnya yang mengunakan metode kenaikan jenjang pada setiap akhir bulan dengan mengunakan persyaratan mengikuti ujian harus selesai muhafadzoh hafalan tasrifannya, selasa malam rabu tanggal 26 januari 2021 seluruh santri LPK2 melaksanakan penyelesaian tangungan hafalan untuk syarat mengikuti ujian.

bhasafm
Suasana santri sedang muhafadzah pada pembinanya ( foto : tim salaf )

LPK2 yang memiliki 12 kelas, terdiri dari tingkatan kalam dengan 6 kelasnya dan juga I’rob dengan jumlah 3 kelas, serta marfuat manshubat dan juga mahfudzot yang masing-masing satu kelas. Dalam pelaksanaan ujian kenaikan jenjang kali ini para santri yang ikut dalam lembaga LPK2 wajib menyelesaikan tangungan tasrifan yang sesuai dengan tingkatanya yang membahas tentang tasrif lughowi dan istilahi.

BACA JUGA :  Cegah Penyebaran Covid Klaster Madura, Satgas Covid-19 Situbondo Lakukan Penyekatan Empat Pelabuhan

Kitab tashrif itu sendiri merupakan kitab kecil yang fenomenal yang dikarang oleh ulama’ Indonesia yang karyanya digunakan oleh seluruh santri yang belajar agama islam di dunia, yaitu kyai Haji Muhammad Maksum Bin Ali, seorang ulama’ Indonesia yang kharismatik yang karya-karyanya diakui oleh keberadaan dunia.

Dalam pelaksanaan ujian kenaikan jenjang yang dilaksanakan pada setiap bulanya ini bertujuan untuk mengevaluasi belajar santri LPK2 selama satu bulan terdapat perkembangan atau tidak dan juga mampu membaca kitab kuning jurmiyah atau tidak dan juga sudah bisa menghafal dan mengerti tentang tasrif aatau tidak yang itu semua merupakan standart kompetensi belajar di lembaga LPK2 al jurumiyah yang ada di asrama Nurul Qoni’, begitulah ungkap walda batitus wandya, dalam sebuah utaranya selaku penangung jawab ujian LPK2.