Ibu-Ibu Jadi Kuli Angkut Batu Bata Demi Biaya Anak Sekolah

0
BhasaFM
Wanita Tangguh_ ibu-ibu jadi kuli angkut batu bata demi biaya anak sekolah (foto: Zaini Zain)

Situbondo- Menjadi buruh kasar biasanya dilakukan seorang lelaki.   Namun hal itu tak berlaku bagi ibu-ibu di di Kampung Randu, Desa Jetis, Kecamatan Besuki. Sebagian ibu rumah tangga di tempat ini memilih jadi kuli angkut batu bata karena demi biaya anak sekolah. 

Menjadi kuli angkut batu bata tidaklah mudah, karena harus mengangkat  dan mendorong beban sangat berat di bawah terik matahari. Beratnya pekerjaan kuli angkut sangat tak sepadan dengan upah yang mereka terima.

Bu Helmi, salah seorang perempuan kuli angkut batu bata mengatakan, dirinya terpaksa bekerja jadi kuli angkut, karena ingin membantu perekonomian keluarga. Wanita berusia 40 tahun itu mengaku sudah bertahun-tahun menjadi kuli angkut.

Sekali angkut menggunakan gerobak, Bu Helmi bisa membawa 50 buah batu bata atau seberat 30 sampai 40 kilo gram. Jarak angkut bisanya bergantung lokasi tempat produksi batu bata ke jalan raya.

BACA JUGA :  Dua Pasien Demam Berdarah Meninggal, Dinkes Ingatkan Warga Jaga Kebersihan Lingkungan

Menurutnya, bayaran menjadi kuli angkut batu bata bukan ditentukan jarak angkut, melainkan dihitung dari jumlah banyaknya batu bata yang diangkut. Untuk 1000 batu bata mendapat upah 30 ribu rupiah. Sehari, Bu Helmi bisa mengangkut 2.500 batu bata.

Bu Helmi mengatakan, menjadi kuli angkut bukan pekerjaan mudah. Selain beban batu bata sangat berat, juga harus melewati jalanan sempit di areal persawahan. Ia mengaku terpaksa karena tak memiliki pekerjaan lain.

Bu Helmi mengatakan, sejauh ini dirinya dan ibu rumah tangga lainnya, belum pernah mendapatkan pendampingan pelatihan keterampilan. Sebenarnya kata Bu Helmi, dirinya ingin sekali beralih profesi, seperti menjadi pedagang atau memiliki industri rumahan. Hanya saja selain tak memiliki keterampilan, juga terkendala masalah permodalan.