Melihat Keunikan Sekolah Alam Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus

0
BhasaFM
Puluhan anak berkebutuhan khusus sekolah alam di SD Sains Desa Sumberkolak Kecamatan Panarukan (foto: Zaini Zain)

Situbondo- Berkunjung ke sekolah alam SD Sains Jatim,  di Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, pasti akan menemukan pengalaman berbeda. Di tempat ini semua siswanya adalah Anak Berkebutuhan Khusus (AKB).

Ada 31 orang siswa berkebutuhan khusus belajar di sekolah ini. Mereka memiliki latar belakang berbeda-beda. Bahkan beberapa siswanya di sekolah alam ini berusia 26 tahun dan 47 tahun.

Untuk siswa di sekolah berkebutuhan khusus tidak melihat usianya melainkan kemampuan akademiknya. Sebelum masuk sekolah formal, para siswa terlebih dahulu mengikuti pra kelas selama tiga bulan. Pra kelas inilah akan dilihat kemampuan IQ masing-masing siswa serta pemenuhan kebutuhan lainnya yang harus disiapkan para tenaga pendidik.

Sekolah alam SD Sains dikelola secara swadaya. Bentuk sekolahnya juga cukup unik, karena semuanya terbuat dari bambu. Para siswa juga ada pelajaran khusus di luar sekolah, seperti latihan memanah, latihan naik kuda, maupun latihan berenang.

Menurut Kepala Sekolah SD Sains Jatim, ST. Wati Sulasminingsih, tidak mudah mendidik siswa berkebutuhan khusus, karena mereka memilki latar belakang berbeda. Ada siswa sudah berusia 47 tahun dan 26 tahun namun belum bisa membaca. Setelah di screening kemampuannya IQ-nya mereka masih sama seperti anak berusia 5 tahun.

BACA JUGA :  Empat Karyawan RSUD Situbondo Reaktif Hasil Rapid Test
BhasaFM
CERIA-Seorang guru mengajak siswa berkebutuhan khusus bermain volly di halaman sekolah alam SD Sains (foto: Zaini Zain)

Wati mengaku, paling sulit mendidik siswa anak berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan emosi. Butuh waktu untuk mengendalikan emosinya yang tak terkontrol hingga harus melibatkan dokter specialis anak.

Wati yang juga perintis sekolah alam itu mengatakan, di sekolahnya tidak ada istilah tahun ajaran baru. Setelah siswa dilakukan screening atau pra kelas, baru akan ditentukan ruang kelas sesuai kemampuannya.

Wati menambahkan, di sekolah alam SD Sains memiliki 11 orang tenaga pendidik. Semuanya merasa senang mengajar anak berkebutuhan khusus, meski harus menghadapi siswa yang bermacam-macam.

Wati menuturkan, SD Sains beridiri sejak 2015 silam. Tahun ini merupakan lulusan pertama siswanya. Wati mengaku bersyukur karena sudah banyak siswa yang sebelumnya tak bisa apa-apa dan pernah sekolah di tempat lain, namun sekarang sudah bisa membaca dan menulis.        

Wati menyebut puluhan siswa sekolah alam SD Sains  berasal dari beberapa Kecamatan di Situbondo. Saat ini kata Wati, pihaknya hanya butuh ijin operasional. Wati meminta Dinas Pendidikan tidak mempersulit mengeluarkan ijin operasional untuk keberlangsung proses belajar mengajar di sekolahnya.