Menuai Kontroversi, Majalah Aspirasi Milik DPRD Hanya Berisi Foto Anggota Dewan

0
BhasaFM
Majalah Aspirasi DPRD Situbondo berisi foto 45 anggota dewan menuai kontroversi karena dinilai hambur-hamburkan uang (foto: Zaini Zain)

Situbondo- Majalah aspirasi milik DPRD Situbondo menuai kontroversi, karena isinya pajangan foto anggota dewan. Penerbitan majalah edisi khusus tersebut dinilai menghambur-hamburkan uang, karena isi di dalamnya lebih mirip album foto.

Majalah aspirasi berjudul “Selamat Datang Wakil Rakyat” bukannya berisi profil anggota dewan, melainkan setiap halaman hanya  berisi foto 45 anggota dewan, dilengkapi dengan nama dan asal partai politiknya.

 Di halaman pertama di balik sampul majalah, tampak ada sambutan mantan Ketua DPRD Bashori Shanhaji. Pada halaman berikutnya berisi foto istri Bupati Dadang Wigiarto, yaitu Umi Kulsum anggota DPRD dari PKB.

Sejumlah anggota dewan mengaku baru tahu majalah “album foto” itu setelah dikirim ke ruang kerjanya, mengingat majalah tersebut memang diterbitkan bagian Sekretariat DPRD. Bahkan sejumlah anggota dewan yang enggan disebut namanya, ikut menyayangkan terbitkan majalah tersebut. Selain mempertimbangkan estetika penerbitan, pencantuman foto juga dinilai asal pasang tanpa ada koordinasi sebelumnya. Ada beberapa foto anggota dewan yang di pajang masih mengenakan atribut partai.

BACA JUGA :  Kiai Azaim Dorong Radio Bhasa FM Terus Berinovasi Mengembangkan Dakwah dan Hiburan
BhasaFM
Majalah aspirasi terbitan edisi khusus DPRD Situbondo (foto: Zaini Zain)

Salah seorang pemerhati hukum di Situbondo, Jayadi SH, menilai bahwa penerbitan majalah aspirasi “Selamat Datang Wakil Rakyat” sepertinya hanya  kejar tayang tanpa memperhatikan kualitas isinya. Majalah aspirasi tersebut tak memiliki informasi apapun di dalamnya, kecuali hanya tampang foto anggota dewan.

Menurut Jayadi, setidaknya majalah aspirasi edisi khusus itu berisi profil anggota dewan, agar publik tahu latar belakang serta visi dan misinya menjadi anggota dewan. Oleh karena itu, Jayadi meminta agar majalah aspirasi itu di evaluasi, agar tak terkesan hanya ingin menyerap anggaran, namun tak mempertimbangkan asas manfaatnya.