Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Situbondo 2018 Sebesar 27, 8 Juta Pertahun

0
320
BhasaFM
Bupati Situbondo Dadang Wigiarto menyampaikan LKPJ APBD 2018 di Kantor DPRD Situbondo (foto: Zaini Zain)

Situbondo– Penurunan angka kemiskinan di Situbondo, juga berpengaruh terhadap meningkatnya pendapatan masyarakat. Pada tahun 2018 pendapatan rata-rata masyarakat Situbondo sebesar 27,8 juta pertahun.

Hal ini diungkapkan Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto, saat menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) ABPD 2018, di Kantor DPRD Situbondo, Kamis kemarin. Pendapatan masyarakat di tahun 2018, meningkat dibandingkan tahun 2017 yang hanya 25,02 juta rupiah. Pada tahun 2016 sebesar 24,18 juta rupiah pertahunnya.

Selain itu, Bupati juga menyampaikan indikator penting mengetahui kondisi ekonomi, yaitu melalui data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Selama kurun waktu tahun 2013-2018 PDRB Kabupaten Situbondo meningkat cukup bagus. Data PDRD menghitung jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan melalui berbagai unit produksi selama setahun.

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) di Kabupaten Situbondo tahun 2017 meningkat 7,2% menjadi 17 ribu 545 milyar rupiah, dibandingkan pada tahun 2016 yang hanya 16 ribu 280, 8 milyar rupiah. Sedangkan PDRB ADHB 2018 diproyeksikan sebesar 18 ribu 956,5 milliar rupiah. Dan untuk PDRB ADHK atau Atas Dasar Harga Konstan hasil produksi riil barang dan jasa yang dihasilkan ekonomi darerah, diproyeksikan sebesar 12 ribu 861,3 Miliar rupiah.

BACA JUGA :  Bupati Situbondo Turun Langsung Salurkan Bantuan Pupuk Urea Gratis

Menurut Bupati Dadang Wigiarto, ukuran kesejahteraan perekonomian daerah, diukur berdasarkan kondisi ketimpangan distribusi pendapatan masyarakat. Indikator ketimpangan pendapatan diukur berdasarkan indeks gini rasio.

Dadang menjelaskan, nilai gini rasio Kabupaten Situbondo pada tahun 2017 sebesar 0,33, turun sebesar 0,02 dibandingkan tahun 2016 yakni sebesar 0,35. Pada tahun 2018 gini rasio Kabupaten Situbondo di proyeksikan sebesar 0,32. Dengan demikian, ketimpangan semakin rendah karena nilainya di bawah 0, 4. Itu artinya terjadi inklusifitas pembangunan ekonomi.