76 Siswa SLTA Tak Lulus UNBK, Dispendik Jatim Prihatin Masih Tingginya Anak Putus Sekolah di Situbondo

0
BhasaFM
Ekspresi kelulusan para siswa corat coret baju seragam sekolah (foto: dok Bhasa)

Situbondo- Sebanyak 76 siswa SLTA (SMA,SMK) di Situbondo dinyatakan tidak lulus UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Sebagian besar siswa tidak lulus karena drop out sebelum pelaksanaan UNBK.

Jumlah siswa SMA-SMK Swasta dan Negeri di Situbondo yang Terdaftar Nominasi Tetap (DNT) sebanyak 6.432. Dari jumlah tersebut sebanyak 76 tidak lulus, terdiri dari 55 SMK swasta, 7 SMK Negeri,  serta 14 orang siswa berasal dari SMA Negeri dan Swasta.

Menurut Kepala Dinas Cabang Pendidikan Jawa Timur Wilayah Situbondo-Bondowoso, Sugiyono Eksantoso, dari jumlah siswa yang masuk DNT, maka prosentase kelulusan di Situbondo sebesar 96,87 persen. Kelulusan siswa sepenuhnya ditentuan satuan pengelola pendidikan.

Sugiyono menilai jumlah siswa tidak lulus UNBK di Situbondo masih cukup tinggi terutama dari sekolah swasta. Yang lebih memperihatinkan lagi kata Sugiyono, sebagian besar siswa tidak lulus disebabkan karena berhenti dari sekolah meski namanya sudah masuk DNT.  Itu artinya jumlah siswa putus sekolah di Situbondo masih cukup besar.

Sugiyono mengaku, dalam waktu dekat pihaknya akan mengevaluasi sistem penyelenggaraan pendidikan di tingkat SLTA di Situbondo, karena ada 99 persen siswa tidak lulus putus sekolah. Mereka mengundurkan diri sebelum pelaksanaan ujian.

BACA JUGA :  Peringati Hari Santri Nasional, Ikrar Spirit Nasionalisme Menggema di Pesantren Sukorejo

Sugiyono menambahkan,  sebagai kepala Dinas Cabang Pendidikan yang baru, pihaknya akan melakukan bebagai langkah terobosan untuk meningkatkan kualitas pendidikan SMA dan SMK baik swasta maupun Negeri di Situbondo. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan penempatan guru berbasis zonasi, dengan cara mendekatkan guru dengan sekolah sehingga proses belajar lebih efektif. Selama ini lanjut Sugiyono, penempatan guru terkesan suka-suka. Bisa dibayangkan ada guru dari daerah tertentu harus mengajar di tempat lain dengan jarak tempuh sangat jauh.

Lebih jauh Sugiyono Eksantoso menegaskan,  agar seluruh sekolah bisa berinovasi pihaknya menyiapkan pelayanan ODS atau On Day Service secara gratis.  Pelayanan satu hari jadi bagi lembaga SMA dan SMK tanpa ada pungutan apapun.  Sugiyono mengaku akan memecat staf Dinas Cabang Pendidikan jika melakukan pemungutan biaya dengan alasan apapun.

Masih menurut Sugiyono, dirinya sudah memerintah semua sekolah SMA-SMA baik swasta maupun negeri, melarang adanya bentuk perpisahan dan tasyakuran, karena hanya menghambur-hamburkan biaya dan membebani wali murid. Sugiyono menyarankan, agar perayaan kelulusan dikemas ke dalam bentuk bhakti sosial seperti bagi-bagi sembako, untuk membantu warga miskin di sekitar sekolah.