Situbondo, bhasafm.co.id- Seorang penggembala sapi bernama Suwardi (68) dilaporkan hilang di kawasan hutan Taman Nasional (TN) Baluran, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, pada Minggu (5/4/2026). Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Situbondo, Timbul Surjanto, mengonfirmasi bahwa laporan kehilangan tersebut diterima setelah pihak keluarga menyadari korban tidak kunjung pulang sejak Sabtu (4/4/2026) malam. Tim terkait mulai melakukan koordinasi untuk menelusuri keberadaan warga lanjut usia tersebut di area hutan.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, Suwardi awalnya berangkat meninggalkan rumah untuk mencari sapi miliknya yang tidak berada di dalam kandang. Dalam perjalanan tersebut, korban sempat berpapasan dengan sesama rekan penggembala bernama Hosen pada Sabtu sore sekitar pukul 15.00 WIB. Saat pertemuan itu terjadi, korban dikabarkan telah berhasil menemukan sapi yang dicarinya, namun ia tetap tidak kunjung sampai di rumah hingga keesokan harinya.
Kejadian hilangnya korban di kawasan konservasi ini menjadi perhatian serius otoritas penanggulangan bencana setempat.
Petugas merinci ciri-ciri fisik Suwardi untuk memudahkan proses identifikasi, yakni memiliki tinggi badan sekitar 165 sentimeter dengan rambut keriting pendek dan berperawakan kurus. Saat terakhir kali terlihat, pria berkulit sawo matang tersebut mengenakan kaos bermotif loreng menyerupai seragam tentara serta celana training berwarna biru. Informasi fisik ini diharapkan dapat membantu masyarakat atau petugas lapangan yang menemukan keberadaan pria tersebut di sekitar wilayah Banyuputih.
Pihak BPBD menyatakan bahwa Suwardi dalam kondisi kesehatan yang baik dan tidak memiliki riwayat penyakit khusus sebelum dinyatakan hilang.
Hingga saat ini, upaya pencarian terus diupayakan guna memastikan keselamatan korban yang masih belum diketahui rimbanya di dalam kawasan hutan. Otoritas setempat mengimbau warga yang memiliki informasi mengenai keberadaan korban agar segera melapor ke pihak berwajib atau posko kebencanaan terdekat. Keberadaan satwa liar dan luasnya medan di Taman Nasional Baluran menjadi tantangan tersendir bagi tim pencari di lapangan.









