Akibat Covid Petani Melon Menjerit, Hasil Panen Rusak Harga Juga Anjlok

0
Bhasafm
Panen-para pekerja menaikan melon ke atas pick up di Desa Duwet, Kecamatan Panarukan (foto: Zaini Zain)

Situbondo- Para petani melon di Situbondo benar-benar terpuruk tahun ini.Selain harganya anjlok di pasaran akibat pandemi Covid-19, hasil panen juga rusak karena cuaca terlalu panas.

Biasanya, para petani bisa meraup keuntungan berlipat di bulan Ramadhan. Namun penjualan melon tahun ini tersendat, karena sejumlah kota besar memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Menurut seorang petani melon, Saleh, saat ini penjualan melon hanya mengandalkan pasar lokal. Untuk penjualan masih normal meski harganya agak lebih murah.

Saleh yang juga pedagang mengaku,  biasanya dirinya mengirim melon ke sejumlah kota besar  setiap bulan Ramadhan, seperti ke Jakarta dan Surabaya. Saat ini, sudah tidak ada lagi permintaan barang sejak terjadi wabah virus Corona.

Saleh menjelaskan, tahun ini hampir semua petani melon mengeluh, karena bisa dibilang mengalami gagal panen. Penyebab utamanya karena faktor cuaca terlalu panas di Situbondo. Ia mencontohkan salah satu kebun melon miliknya hanya memperoleh hasil panen 20 ton, turun sekitar 60 persen dibandingkan hasil panen tahun sebelumnya. Biasanya kata Saleh,  untuk ukuran luas lahan tiga petak bisa memperoleh hasil panen 55 ton.