Kesaksian Warnijah Saat Rumahnya Dirusak Massa, Sambil Gendong Cucu Khawatir Terkena Lemparan Batu

0

Situbondo- Warnijah adalah istri Liasto,merupakan  saksi mata saat puluhan massa melempari rumahnya dengan batu di Dusun Leduk, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, malam kemarin. Wanita berusia 50 tahun itu mengaku trauma mengingat saat massa melempari rumahnya sambil berteriak-teriak.

Sambil menangis, Warnijah mengisahkan kronologis perisitiwa pengrusakan rumahnya. Saat kejadian, Warnijah mengaku berada di luar rumah sambil mengendong cucunya yang masih berusia tiga tahun. Warnijah melindungi cucunya karena khawatir terkena lemparan batu dari arah depan dan belakang.

Menurut Warnijah, saat terjadi pengrusakan rumah serta kendaraan miliknya terjadi, dirinya sempat mendengar teriakan meminta warga tenang namun tetap tak digubris. Kemungkinan suara tersebut adalah Kepala Dusun yang berdekatan dengan rumahnya.

Warnijah menegaskan bahwa suaminya tak memiliki ilmu santet. Ia mengaku sudah tiga kali diusir warga dengan isu dukun santet. Warnijah dan keluarga pernah pindah ke rumah kontrakan, namun juga diusir dengan tudingan yang sama hingga harus tidur di jalan.

BACA JUGA :  Lampu Pasar Asembagus Sempat Mati, Pedagang Pasar Minta Pemkab Tak Korbankan Rakyat Kecil

Warnijah mengaku suaminya memang sering kedatangan tamu, namun bukan berarti punya ilmu santet. Bahkan suaminya pernah bersedia melakukan sumpah pocong, karena Warnijah ingin tetap hidup tenang bersama keluarganya.

Sementara itu. Wakil Bupati Yoyok Mulyadi, menegaskan, harus ada penyelesaian bersama terkait tudingan dukun santet tersebut. Sebab warga bersikukuh menuding yang bersangkutan punya ilmu santet, sementara tertuduh juga bersikukuh tak memiliki ilmu santet.

Menurut Yoyok, penyelesaiannya harus dirumuskan bersama melalui mediasi berbagai pihak. Dibeberapa daerah masalah isu ilmu santet diselesaikan melalui sumpah. Hal itu salah satu cara untuk menghapus stigma orang punya ilmu santet.

Yoyok menambahkan, Pemkab hanya bisa memediasi penyelesaian masalah sosialnya, sedangkan untuk proses hukumnya sepenuhnya berada di tangan aparat penegak hukum.  Oleh karena itu, Wabup berharap masyarakat tidak main hakim sendiri karena dapat memicu konflik sosial.