Tinggal di Gubuk Reot, Kakek 82 Tahun Bertahan Hidup Dari Pemberian Dermawan

0
103
bhasafm
Hidup Sendiri : Moyo, kakek 82 tahun itu bertahan hidup di gubuk reot mengandalkan bantuan dermawan ( foto : zaini zain )

Situbondo-Seorang kakek berusia 82 tahun tinggal di sebuah gubuk reot di  perbukitan Dusun Air Mancur, Desa Juglangan, Kecamatan Panji. Kakek bernama Moyo sudah bertahun-tahun hidup sebatang kara di gubuk tersebut.

Gubuk berukuran dua meter persegi itu menjadi tempat tinggalnya sejak 7 tahun terakhir ini. Tidak diketahui secara pasti alasan Moyo tinggal di tempat tersebut. Konon, Moyo merupakan penduduk asli Desa Parante, Kecamatan Asembagus.

Moyo  sudah tak bisa lagi bekerja. Usianya yang sudah senja membuatnya hanya menunggu pemberian dermawan. Tanpa ada penderma yang datang menyantuninya, ia tidak akan makan satu hingga dua hari.

“Saya kadang masak sendiri menggunakan tungku. Beras yang saya masak dikasik orang-orang,” katanya dengan nada parau, saat ditemui di gubuknya, Kamis, 18 Maret 2021.

BACA JUGA :  Kunjungan Wapres KH. Ma’ruf Amin ke Pondok Pesantren Sukorejo Terapkan Prokes Ketat

Nasib kakek yang satu ini benar-benar tragis. Di usianya yang sudah tidak muda lagi harus menanggung beban hidup yang cukup berat. Tinggal di gubuk reot dan hanya mengandalkan pemberian dermawan untuk bertahan hidup.

“Kami sering membantunya tapi secara informal hasil sawadaya. Pemdes Juglangan tak bisa memberikan bantuan apapun karena yang bersangkutan tidak memiliki KTP desa setempat,” kata Gandi salah seorang perangkat desa Juglangan.

Menurut Gandi, pendes bersama Polsek Panji dulu pernah mengantarkan kakek Moyo ke rumahnya, namun pihak keluarga yang di klaimnya Moyo sebagai keluarganya menolaknya.

“Kalau kami tidak tahu alasannya dia itu memilih tinggal di gubuk itu. Kami sudah berusaha mengantarkan pulang tapi tidak berhasil. Jadi kami tak bisa berbuat apa-apa,” terangnya.

Reporter : Zaini Zain