Situbondo, bhasafm.co.id- Para petani dan tengkulak rimpang di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, kini tengah mengeluhkan kondisi pasar yang kurang berpihak. Harga komoditas empon-empon seperti jahe, kunyit, dan kencur di tingkat lokal terus mengalami penurunan drastis seiring dengan minimnya permintaan dari beberapa daerah tujuan.
Marsuki (29), salah seorang petani sekaligus tengkulak rimpang asal Situbondo, mengungkapkan bahwa lesunya pasar domestik dan absennya keran ekspor menjadi pemicu utama anjloknya harga. Saat ini, harga kunyit di tingkat petani hanya dihargai Rp2.000 per kilogram, padahal jika permintaan ekspor sedang ramai harganya bisa melambung hingga Rp6.000 per kilogram.
Nasib serupa juga menimpa komoditas jahe. Jika biasanya harga jahe mampu menembus angka Rp16.000 per kilogram saat memenuhi kuota ekspor, kini harganya merosot tajam hingga menyentuh angka Rp8.000 per kilogram saja. Penurunan harga yang mencapai separuh dari nilai normal ini tentu memukul pendapatan para petani lokal.
Padahal dari segi kapasitas produksi, Kabupaten Situbondo memiliki potensi yang sangat besar dan mampu menyuplai kebutuhan pasar di wilayah Tapal Kuda hingga Surabaya. Dalam kondisi pasar normal, permintaan harian dari luar daerah bisa mencapai 20 ton untuk jahe, 30 ton untuk kunyit, dan 10 ton untuk kencur. Petani berharap kondisi pasar segera stabil dan jalur ekspor kembali terbuka agar harga rimpang kembali bergairah.









