Situbondo, bhasafm.co.id- Pemerintah Kabupaten Situbondo mulai menyiapkan langkah mitigasi guna menghadapi musim kemarau panjang tahun 2026 serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah, menyatakan telah berkoordinasi dengan Pemprov Jatim untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan air bersih serta kesiapsiagaan relawan di titik rawan kebakaran.
Kolaborasi antara pemerintah desa, kecamatan, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dinilai sangat krusial dalam masa transisi musim ini. Pemkab juga telah membangun sumur bor di beberapa lokasi sebagai solusi permanen bagi wilayah yang sering mengalami krisis air. Wabup Ulfiyah menekankan pentingnya respons cepat dari semua pihak agar dampak kemarau tidak mengganggu produktivitas masyarakat.
Sinergi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur terus diperkuat untuk memetakan kebutuhan distribusi air bersih secara berkala.
Berdasarkan data BPBD Situbondo, terdapat delapan titik rawan kekeringan yang tersebar di Kecamatan Suboh, Arjasa, Banyuputih, dan Jatibanteng. Kepala Pelaksana BPBD, Timbul Surjanto, menjelaskan bahwa langkah antisipasi saat ini masih mengacu pada data kerawanan tahun sebelumnya. Sebanyak 6.824 jiwa tercatat berpotensi terdampak kekurangan air bersih jika kemarau berlangsung dalam jangka waktu lama.
Petugas di lapangan mulai melakukan pengecekan ketersediaan armada tangki air untuk proses dropping ke wilayah terdampak.
Selain krisis air, pengawasan terhadap kawasan hutan di wilayah Banyuputih dan Suboh menjadi perhatian khusus guna mencegah meluasnya karhutla. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu api di tengah cuaca panas ekstrem. Melalui mitigasi yang matang, Pemkab Situbondo berharap risiko bencana akibat kemarau panjang tahun ini dapat diminimalisir secara efektif.









