Home / Berita Terbaru / APLS dan HMD Gemas Sepakati Harga Telur Rp27.500

APLS dan HMD Gemas Sepakati Harga Telur Rp27.500

Situbondo, bhasafm.co.id- Sinergitas taktis antarsektor usaha lokal di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, sukses melahirkan solusi konkret di tengah ketidakpastian pasar komoditas hewani. Asosiasi Peternak Layer Situbondo (APLS) resmi menjalin kemitraan strategis dengan Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD Gemas) guna menyepakati harga jual-beli telur ayam ras di angka Rp27.500 per kilogram.

 

Ketua APLS, Fitrah Hafif, mengungkapkan bahwa penandatanganan kesepakatan ini menjadi angin segar yang sangat dinantikan oleh para pelaku usaha budidaya ayam petelur lokal. Pasalnya, harga pasaran telur ayam di tingkat reguler belakangan ini tengah merosot tajam hingga menyentuh level terendah di angka Rp22.000 per kilogram.

 

Melalui skema kemitraan jaminan pasar ini, para peternak tidak perlu lagi didera kecemasan terkait fluktuasi harga maupun serapan hasil panen harian mereka. Nominal kontrak Rp27.500 tersebut dinilai sangat ideal karena sudah memperhitungkan biaya operasional dan memberikan margin keuntungan bersih sekitar Rp2.000 per kilogram bagi peternak.

 

Sementara itu, Ketua HMD Gemas DPD Kabupaten Situbondo, Roni Sugiharto Susiawan, menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) ini mengikat kedua belah pihak dengan sistem evaluasi berkala. Harga pembelian yang telah disepakati tersebut akan berlaku tetap selama tiga bulan ke depan, terhitung sejak Kamis (9/7/2026).

 

Langkah kolaboratif ini mendapat pengawalan penuh dari pemerintah daerah setempat. Plt Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Situbondo, Abdul Rahman, membeberkan bahwa pihaknya sengaja memfasilitasi pertemuan ini sebagai langkah respons cepat menindaklanjuti Surat Edaran (SE) dari Badan Gizi Nasional (BGN).

 

Berdasarkan regulasi pusat tersebut, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan menyertakan menu telur ayam sebanyak tiga kali dalam seminggu pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan intervensi ini sengaja diambil oleh pemerintah pusat untuk menyerap produksi lokal sekaligus menjadikan telur sebagai komoditas penyangga inflasi daerah.

 

Rahman merinci, kebutuhan total komoditas telur ayam ras untuk menyokong operasional dapur SPPG di seluruh Situbondo mencapai 20 ton dalam sepekan. Volume kebutuhan tersebut dipastikan dapat terpenuhi secara mandiri oleh peternak lokal, mengingat kapasitas produksi harian APLS mampu menyentuh angka 25 ton per minggu.

 

Sisa kelebihan produksi sebesar 5 ton dari peternak asosiasi nantinya akan tetap dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional umum. Hal ini dinilai sangat baik untuk menjaga keseimbangan neraca pangan daerah, mengingat konsumsi total masyarakat Situbondo secara reguler berada di kisaran 17 ton per hari.

Tag: