Selama 14 Hari Terpapar Covid-19, Supriyono Berikan Testimoni Penyakit Corona Itu Nyata

0
112
bhasafm
TESTIMONI, Supriyono (pasien Covid19) memberikan testimoni penyakit Corona itu ada dan nyata (Foto: Zaini Zain)

Situbondo- Lonjakan pasien baru terpapar virus Corona terus bertambah beberapa hari terakhir ini. Sudah ada tiga Kecamatan ditetapkan menjadi zona merah penyebaran Covid-19. Anehnya, sebagian masyarakat terlihat abai mematuhi protokol kesehatan (Prokes), bahkan sebagian terkesan menunjukan sikap kurang percaya terhadap virus Corona.

Salah seorang pasien Covid-19, Supriyono, memberikan testimoni terkait virus Corona. Pria berprofesi sebagai pengacara itu  mengingatkan masyarakat tidak mengabaikan prokes, karena penyakit Corona itu benar-benar nyata dan dirinya sudah mengalaminya.

“Perlu saya sampaikan dalam testimoni ini bahwa penyakit Corona itu ada dan nyata karena saya sendiri sudah pernah terpapar,” kata Supriyono, Rabu, 23 Juni 2021.

Pengacara asal Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, mengaku terkonfirmasi positif Covid-19 akhir Desember 2020. Selama 14 hari harus menjalani perawatan medis di ruang ICU Rumah Sakit Abdoer Rahem Situbondo.

Selama di rumah sakit, Supriyono benar-benar merasa tersiksa, karena harus merasakan sakit sekaligus tekanan psikis. Selain mengalami sesak nafas, gangguan pencernaan dan mual-mual, dirinya merasakan labil karena harus seorang diri di kamar ICU tanpa bisa didampingi keluarga terdekat.

“Saya terpapar Covid mulai akhir Desember 2020 hingga awal Januari 2021. Setelah keluar dari rumah sakit, saya masih harus recoveri selama 10 hari. Makanya jangan abai, saya sendiri merasakan jadi pasien Corona,” ujarnya

Menurut Supriyono, awal masuk rumah sakit sebagai pasien Covid-19, dirinya benar-benar mengalami tekanan psikis luar biasa, karena harus melewati masa-masa sulit seorang diri. Tiga hari kemudian dirinya baru mulai membaik. Untuk sekedar menghibur diri, Supriyono mengaku joget-joget sendiri di kamar ICU.

BACA JUGA :  DP3A Situbondo Dorong Setiap Desa Alokasi Anggaran Responsif Gender

“Tekanan terbesar yang saya rasakan karena terisolasi. Untungnya kamar saya dekat jendela jadi saya masih bisa berkomunikasi lewat kaca dengan keluarga,” kenanya.

Supriyono menambahkan, selama masa recovery di rumah, Supriyono merasa dirinya terkurung karena tak bisa berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat termasuk dengan klien yang perkaranya sedang ditangani. Penyakit Covid-19 tak hanya membuatnya tersiksa, namun pekerjaannya juga amburadul. Sebagai pengacara dirinya tak bisa lagi beracara di pengadilan.

“Saya beruntung banyak dibantu rekan sesama pengacara menyelesaikan beberapa kasus yang ditanganinya. Saya sangat berterima terhadap rekan-rekan pengacara dan wartawan yang terus menyemangati saya selama di rumah sakit,” terangnya.

Supriyono mengaku bahwa support orang terdekat baik keluarga maupun teman-temannya menjadikan dirinya lebih kuat melewati masa-masa sulit. Baginya, dukungan moral tersebut menjadi obat kesembuhan dirinya.

Supriyono mengingatkan agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Sebagai orang yang pernah positif Covid-19, dirinya memiliki kewajiban mengingatkan bahwa virus Corona itu berbahaya. Bahkan saat ini mulai berkembang virus Corona dengan varian baru.

“Mari kita disiplin prokes karena  menjaga diri sendiri berarti menjaga orang lain. Kita harus bersama melawan Corona,” pungkasnya.

Reporter: Zaini Zain